1. Paradoks
(paradoxos: para, bertentangan
dengan, doxa: pendapat atau pikiran)
adalah cara pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah
bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
a. Aku
sangat menderita dalam pertemuan yang
membahagiakan ini.
b. Tidakkah kau sadari, di ruangan
yang sempit dan pengap ini kita
endapatkan cakrawala yang amat luas.
2.
Oksimoron
adalah
paradox dalam satu fase.
a. Ada
ketegangan yang mengasyikkan ketika
aku menyaksikan pertandingan sepak bola semalam.
3. Antithesis
(Yun.
Anti: bertentangan, tithenai: menempatkan) adalah
pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang
lainnya.
a. Tindak
kejahatan sekarang tidak membedakan lagi siang
malam, pagi petang, laki-laki perempuan, dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.
b. Katanya, di surge kita tidak lagi
berurusan dengan lapar atau kenyang,
miskin atau kaya, cantik atau jelek.
4. Kontradiksi
interminus adalah pernyataan yang bersifat menyangkal yang
telah disebutkan pada bagaian sebelumnya.
a.
Yang belum melunasi uang sekolah
tidak boleh mengikuti ulagan umum,
kecuali Bisma.
b. Memang semua persoalan yang kita
hadapi amat sukar dipecahakan, kecuali
masalah-masalah yang sederhana.
5. Anakronisme
(anachronismos: ana,
ke belakang, chronos, waktu) adalah
ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian antara peristiwa dengan waktunya.
a. Pandita
Durna terbangun ketika mendengar bel bordering
empat kali
Sumber :
Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar