Sabtu, 17 Agustus 2013

Majas Pertentangan


1. Paradoks (paradoxos: para, bertentangan dengan, doxa: pendapat atau pikiran) adalah cara pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
a.       Aku sangat menderita dalam pertemuan yang membahagiakan ini.
b.    Tidakkah kau sadari, di ruangan yang sempit dan pengap ini kita endapatkan cakrawala yang amat luas.

2.      Oksimoron adalah paradox dalam satu fase.
a.  Ada ketegangan yang mengasyikkan ketika aku menyaksikan pertandingan sepak bola semalam.
b.      Aku seperti bermimpi mengalami pertemuan yang asing ini.

3. Antithesis (Yun. Anti: bertentangan, tithenai: menempatkan) adalah pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
a.   Tindak kejahatan sekarang tidak membedakan lagi siang malam, pagi petang, laki-laki perempuan, dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.
b.    Katanya, di surge kita tidak lagi berurusan dengan lapar atau kenyang, miskin atau kaya, cantik atau jelek.

4.   Kontradiksi interminus adalah pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagaian sebelumnya.
a.      Yang belum melunasi uang sekolah tidak boleh mengikuti ulagan umum, kecuali Bisma.
b.   Memang semua persoalan yang kita hadapi amat sukar dipecahakan, kecuali masalah-masalah yang sederhana.

5.  Anakronisme (anachronismos: ana, ke belakang, chronos, waktu) adalah ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian antara peristiwa dengan waktunya.
a.       Pandita Durna terbangun ketika mendengar bel bordering empat kali

Sumber :
            Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar