Pengantar Organisasi & Arsitektur Komputer
“Arithmatic
Logic Unit (ALU)”
2
KA 12
Nama
Kelompok 5 :
1. Dwi Rejeki (12111260)
2. Resti Hanifa (18111036)
3. Widi Nur Astuti (17111380)
4. Yuni Puspa Rahayu (17111665)
SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2012/2013
Computer Arithmetic
1. Arithmetic Logic Unit (ALU)
ALU,
singkatan dari Arithmetic And Logic Unit adalah salah satu bagian dalam
dari sebuah mikroprosesor yang berfungsi untuk melakukan operasi
hitungan aritmatika
dan logika.
Contoh operasi aritmatika adalah operasi penjumlahan dan pengurangan, sedangkan contoh operasi
logika adalah logika AND dan OR.
Tugas utama dari
ALU (Arithmetic And Logic Unit) adalah melakukan semua perhitungan aritmatika
atau matematika yang terjadi sesuai dengan instruksi program. ALU melakukan operasi arithmatika dengan dasar
pertambahan, sedang operasi arithmatika yang lainnya, seperti pengurangan,
perkalian, dan pembagian dilakukan dengan dasar penjumlahan.
2. Integer Representation atau
Representasi data
Data
adalah bilangan biner dan informasi berkode biner lain yang dioprasikan untuk mencapai beberapa hasil
perhitungan. Informasi biner disimpan sebagai data atau informasi control.
a.
Konversi biner, octal, dan
heksadesimal
Untuk
mengkonversi dari biner ke octal, dapat membagi bilangan biner mulai dari titik
radiks menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga bit, berikut adalah
tabelnya.
Bilangan berkode octal biner
Desimal
|
Oktal
|
Biner
|
0
|
0
|
000
|
1
|
1
|
001
|
2
|
2
|
010
|
3
|
3
|
011
|
4
|
4
|
100
|
5
|
5
|
101
|
6
|
6
|
110
|
7
|
7
|
111
|
Sedangkan
untuk menkonversi octal ke biner, setiap digit octal dihubungkan dengan
kelompok tiga bit dan nilai bilangan binernya didapat dari penggabungan
kelompok-kelompok tersebut, berikut tabelya:
Bilangan biner berkode heksadesimal.
Desimal
|
Heksadesimal
|
Biner
|
0
|
0
|
0000
|
1
|
1
|
0001
|
2
|
2
|
0010
|
3
|
3
|
0011
|
4
|
4
|
0100
|
5
|
5
|
0101
|
6
|
6
|
0110
|
7
|
7
|
0111
|
8
|
8
|
1000
|
9
|
9
|
1001
|
10
|
A
|
1010
|
11
|
B
|
1011
|
12
|
C
|
1100
|
13
|
D
|
1101
|
14
|
E
|
1110
|
15
|
F
|
1111
|
Contoh 1 :
Konversikanlah (1101000101.01011)2 ke
dalam bilangan octal
Jawab :
1 101
000 101 010 11
1
5 0 5
2 6
maka bilangan octal yang ekuivalen
adalah 1505.26
001 000
110 100
1 0 6
4
maka bilangan octal yang ekuivalen
adalah 1064
Contoh
2 :
Konversikan (11101110001011001)2 ke
dalam heksadesimal
1 1101
1100 0101 1001
1
D C 5
9
Maka bilangan heksadesimal yang
ekuivalen adalah 1DC59
1111 0000
0110 0100
F 0 6
4
b.
Representasi Desimal Berkode Biner
(BCB)
Representasi
decimal berkode biner (BCB) adalah gabungan dari sistem bilangan decimal ke
biner. Dalam BCB menggunakan empat bit (satu nibble). Berikut tabelnya :
Hubungan decimal, binary, dan BCB
Desimal
|
Biner
|
BCB
|
0
|
0000
|
0000
|
1
|
0001
|
0001
|
2
|
0010
|
0010
|
3
|
0011
|
0011
|
4
|
0100
|
0100
|
5
|
0101
|
0101
|
6
|
0110
|
0110
|
7
|
0111
|
0111
|
8
|
1000
|
1000
|
9
|
1001
|
1001
|
10
|
1010 0001
|
0000
|
11
|
1011 0001
|
0001
|
12
|
1100 0001
|
0010
|
13
|
1101 0001
|
0011
|
14
|
1110 0001
|
0100
|
15
|
1111 0001
|
0101
|
Contoh
:
Konversikan (3729)10 ke BCB
Jawab :
3
7 2 9
11
0111
0010 1001
3. Konversi Bilangan
1. Biner adalah bilangan berbasis dua
yang terdiri dari 0 dan 1,
2. Octal adalah bilangan berbasis
delapan yang terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7
3. Decimal adalah bilangan berbasis
sepuluh yang terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9
4. Hexadecimal adalah bilangan berbasis
enam belas yang terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, dan F.
Di bawah ini merupakan table
konversi bilangan
Decimal, Biner, Octal, dan Hexadecimal sampai dengan 16 (dalam Decimal). Untuk
mengetahui sebuah bilangan dalam basis bilangan yang berbeda dapat dilakukan
konversi antar bilangan tersebut. Jika konversi hanya sampai 16 (dalam Decimal)
dapat menggunakan tabel di bawah.
Konversi antar bilangan
A. BILANGAN DECIMAL
1. Konversi Bilangan Decimal ke Biner
127 : 2 = 63 sisa 1
63 : 2 = 31 sisa 1
31 : 2 = 15 sisa 1
15 : 2 = 7 sisa 1
7 : 2 = 3 sisa 1
3 : 2 = 1 sisa 1
1 : 2 = sisa 1
Jadi 254 (10) = 11111110 (2) diurutkan dari sisa pembagian terakhir sebagai MSB (Most Significant Bit)
1. Konversi Bilangan Decimal ke Biner
Contoh 254 (10) = .......(2)
Caranya dengan membagi bilangan tersebut dengan dua sampai bilangan tersebut tidak bisa lagi dibagi dua (kurang dari dua) dengan mencatat setiap sisa pembagian.
254 : 2 = 127 sisa 0Caranya dengan membagi bilangan tersebut dengan dua sampai bilangan tersebut tidak bisa lagi dibagi dua (kurang dari dua) dengan mencatat setiap sisa pembagian.
127 : 2 = 63 sisa 1
63 : 2 = 31 sisa 1
31 : 2 = 15 sisa 1
15 : 2 = 7 sisa 1
7 : 2 = 3 sisa 1
3 : 2 = 1 sisa 1
1 : 2 = sisa 1
Jadi 254 (10) = 11111110 (2) diurutkan dari sisa pembagian terakhir sebagai MSB (Most Significant Bit)
- Konversi Bilangan Decimal ke
Octal
Contoh 254 (10) = .......(8)
Caranya dengan membagi bilangan tersebut dengan delapan sampai bilangan tersebut tidak bisa lagi dibagi delapan (kurang dari delapan) dengan mencatat setiap sisa pembagian.
254 : 8 = 31 sisa 6
31 : 8 = 3 sisa 7
3 : 8 = sisa 3
Jadi 254 (10) = 376 (8) diurutkan dari sisa pembagian terakhir sebagai MSB (Most Significant Bit)
Jadi 254 (10) = 376 (8) diurutkan dari sisa pembagian terakhir sebagai MSB (Most Significant Bit)
- Konversi Bilangan Decimal ke
Hexadecimal
Contoh 254 (10) = .......(16)
Caranya dengan membagi bilangan tersebut dengan enam belas sampai bilangan tersebut tidak bisa lagi dibagi enam belas (kurang dari enam belas) dengan mencatat setiap sisa pembagian.
254 : 16 = 15 sisa 14 atau E (lihat tabel di atas)
15 : 16 = sisa 15 atau F (lihat tabel di atas)
Jadi 254 (10) = FE (16) diurutkan dari sisa pembagian terakhir sebagai MSB (Most Significant Bit).
B.
BILANGAN BINER
- Konversi Bilangan Biner ke
Decimal
Contoh 1100100 (2) = .......(10)
Dengan cara mengalikan bilangan-bilangan tersebut dengan dua yang telah dipangkatkan sesuai urutan 0,1,2,4, dan seterusnya kemudian menjumlahkannya.
0 x 20 = 0
0 x 21 = 0
1 x 22 = 4
0 x 23 = 0
0 x 24 = 0
1 x 25 = 32
1 x 26 = 64
0+0+4+0+0+32+64 = 100
Jadi 1100100 (2) = 100 (10) - Konversi Bilangan Biner ke
Octal
Contoh 1100100 (2) = .......(8)
Dengan cara memisahkan bilangan tersebut menjadi beberapa bagian dimulai dari bilangan paling kanan (LSB). Setiap bagian terdiri dari tiga angka (digit), kemudian lihat tabel di atas. Jika bagian terakhir (paling kiri) kurang dari tiga digit, dapat menambahkan bilangan 0.
1100100 dipisahkan menjasi tiga bagian menjadi 1-100-100 atau 001-100-100
100 (2) = 4 (8)
100 (2) = 4 (8)
001 (2) = 1 (8)
Jadi 1100100 (2) = 144 (8) - Konversi Bilangan Biner ke
Hexadecimal
Contoh 1100100 (2) = .......(16)
Dengan cara memisahkan bilangan tersebut menjadi beberapa bagian dimulai dari bilangan paling kanan (LSB). Setiap bagian terdiri dari empat angka (digit), kemudian lihat tabel di atas. Jika bagian terakhir (paling kiri) kurang dari empat digit, dapat menambahkan bilangan 0.
1100100 dibagi empat bagian menjadi 110-0100 atau 0110-0100
0100 (2) = 4 (16)
0110 (2) = 6 (16)
Jadi 1100100 (2) = 64 (16)
C.
BILANGAN
OCTAL
- Konversi Bilangan Octal ke
Decimal
Contoh 200 (8) = ...... (10)
Dengan cara mengalikan bilangan-bilangan tersebut dengan delapan yang telah dipangkatkan sesuai urutan 0,1,2,4, dan seterusnya kemudian menjumlahkannya.
0 x 80 = 0
0 x 81 = 0
2 x 82 = 128
0+0+128 = 128
Jadi 200 (8) = 128 (10) - Konversi Bilangan Octal ke
Biner
Contoh 200 (8) = ...... (2)
Dengan cara melihat tabel di atas kemudian tulis dalam tiga digit, setelah itu diurutkan (disatukan).
0 (8) = 000 (2)
0 (8) = 000 (2)
2 (8) = 010 (2)
Jadi 200 (8) = 010000000 (2) - Konversi Bilangan Octal ke
Hexadecimal
Contoh 200 (8) = ...... (16)
Lakukan konversi ke Decimal atau ke Biner terlebih dahulu kemudian konversi lagi ke Hexadecimal. Jika konversi dilakukan ke bilangan Biner, maka hasil konversi dipisahkan menjadi beberapa bagian dimana setiap bagian terdiri dari empat digit dimulai dari sebelah kanan (LSB) kemudian dikonversi ke Hexadecimal dengan melihat tabel di atas.
200 (8) = 010000000 (2)
010000000 menjadi 0-1000-0000 atau 0000-1000-0000
0000 (2) = 0 (16)
1000 (2) = 8 (16)
0000 (2) = 0 (16)
Jadi 200 (8) = 080 (16)
D.
BILANGAN
HEXADECIMAL
- Konversi Bilangan Hexadecimal
ke Biner
Contoh FA (16) = ..... (2)
Caranya dengan menggunakan tabel di atas.
A (16) = 1010 (2)
F (16) = 1111 (2)
Jadi FA (16) = 11111010 (2)
- Konversi Bilangan Hexadecimal
ke Octal
Contoh FA (16) = ..... (8)
Caranya dengan mengkonversi bilangan tersebut ke Biner terlebih dahulu kemudian gunakan cara konversi bilangan Biner ke Octal.
FA (16) = 11111010 (2)
11111010 menjadi 11-111-010 atau 011-111-010
010 (2) = 2 (8)
111 (2) = 7 (8)
011 (2) = 3 (8)
Jadi FA (16) = 372 (8) - Konversi Bilangan Hexadecimal
ke Decimal
Contoh FA (16) = ..... (10)
Dengan cara mengalikan bilangan-bilangan tersebut dengan enam belas yang telah dipangkatkan sesuai urutan 0,1,2,4, dan seterusnya kemudian menjumlahkannya.
A x 160 atau 10 x 160 = 10
F x 161 atau 15 x 161 = 240
10+240 = 250
Jadi FA (16) = 250 (10)
4. Penjumlahan, pengurangan dan
perkalian Biner
1.
Penjumlahan
biner
Penjumlahan
bilangan biner serupa dengan penjumlahan pada bilangan desimal. Dua bilangan
yang akan dijumlahkan disusun secara vertikal dan digit-digit yang mempunyai
signifikansi sama di tempatkan pada kolom yang sama.
Digit-digit
ini kemudian dijumlahkan dan jika jumlahnya lebih besar dari 1, maka ada
bilangan yang disimpan, selanjutnya bilangan yang disimpan tersebut dijumlahkan
dengan bilangan di sebelah kirinya.
Aturan dasar
untuk penjumlahan pada bilangan biner adalah seperti berikut:
0 + 0 = 0
0 + 1 = 1
1 + 0 = 1
1 + 1 = 0, simpan 1
0 + 0 = 0
0 + 1 = 1
1 + 0 = 1
1 + 1 = 0, simpan 1
Contoh :
1. Sebagai
contoh akan dijumlah dua bilangan biner 01012 + 00112 hasilnya 10002
2.
Sebagai contoh akan dujumlahkan dua
bilangan biner 11001+11011 hasilnya 110100
Kolom
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
Bilangan pertama
|
1
|
1
|
0
|
0
|
1
|
|
Bilangan kedua
|
1
|
1
|
0
|
1
|
1
|
|
Bilangan yang di simpan
|
1
|
1
|
1
|
1
|
||
Jumlah
|
1
|
1
|
0
|
1
|
0
|
0
|
2.
Pengurangan
Biner
Metode
yang digunakan dalam pengurangan bilangan biner juga sama dengan metode yang
digunakan untuk pengurangan pada bilangan desimal. Dalam metode ini, jika
diperlukan sebuah angka diperbolehkan meminjam 1 dari kolom yang mempunyai
derajat lebih tinggi atau yang biasanya berada di sebelah kiri.
Aturan dasar
untuk pengurangan bilangan biner adalah sebagai berikut:
0 – 0 = 0
1 – 0 = 1
1 – 1 = 0
0 – 1 = 1, pinjam 1
0 – 0 = 0
1 – 0 = 1
1 – 1 = 0
0 – 1 = 1, pinjam 1
3.
Perkalian
Biner
Metode yang digunakan dalam
perkalian biner juga pada dasarnya sama dengan perkalian desimal, akan terjadi
pergeseran ke kanan setiap dikalikan 1 bit pengali. Setelah proses perkalian
masing-masing bit pengali selesai, dilakukan penjumlahan masing-masing kolom
bit hasil.
Referensi
Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar